Dalam
diamku, aku berfikir mengenai apa yang aku lihat. Tentang seorang ibu
yang menenangkan tangis anaknya yang berusia dua tahun dengan sebuah
pena dan secarik kertas. Sebuah hal yang tak jarang dan sederhana
bukan? memang sederhana jika ditinjau dari visual, tapi ketika aku
berpikir lebih dalam ada suatu pelajaran yang dapat aku gali, ketika
anak tersebut menghentikan tangisnya dan mulai asyik dengan sebuah
pena serta secarik kertas. Kejadian ini seperti mengisyaratkan bahwa
sesungguhnya Tuhan telah mengaruniakan duapemberian yang amat luar biasa ketika anak masih ada pada usia dini.
Aku
termasuk orang yang meyakini bahwa anak pada kisaran umur 0-3 tahun
adalah makhluk tuhan dalam wujud manusia yang suci hati dan
pemikirannya. Setujukah anda dengan saya? Jika anak tersebut
menghentikan tangisnya, kemudian ceria atas pena serta secarik kertas
yang diberikan oleh ibunya, apakah itu sebuah kebetulan?
Sepertinya
terlalu sedikit pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita
mengatakan hal itu merupakan sebuah kebetulan. Mari kita pikir
lagi…apa yang melandasi anak itu untuk ceria atas pena serta
secarik kertas yang diberikan oleh ibunya? Bukankah anak kecil belum
cukup untuk berlogika untuk menentukan suatu pilihan? Saya meyakini
bahwa yang menentukan pilihan itu tiada lain adalah hati yang masih
suci dan tiadalah suatu dzat yang dapat menaruh rasa benci dan suka
pada hati manusia kecuali Tuhannya.
Jadi
secara tidak langsung, Tuhan telah memberikan petunjuknya,
sesungguhnya Ia telah mengaruniakan pada sebagian besar manusia dua
hal yang luar biasa yaitu menulis
atau menggambar,
tinggal manusia itu sendiri hendak menekuni dua karunia itu atau akan
berpaling memilih sesuatu yang tiada manfaat atas pilihan hawa
nafsunya yang tumbuh seiring bertambahnya usia.
Begitulah
pendapatku tentang menulis, menulis adalah rahmat dari Tuhan. Dalam
sejarahpun terserat demikian, Tuhan memberikan petunjuk kepada
manusia melalui kitab yang ia turunkan. Ia menunjukan bagaimana cara
menyampaikan informasi secara efektif
melalui kitab yang Ia turunkan.
Ia
menunjukan bagaimana cara menyampaikan informasi tanpa berkata
meskipun Ia kuasa untuk melakukannya, namun Ia menghendaki agar
manusia mengambil pelajaran atas peristiwa ini. Pada perkembangan
selanjutnya hingga zaman kini pun terbukti menulis adalah hal yang
sangat urgent.
Tidak
semua orang dapat berkata meskipun secara indra ia sempurna, namun
semua orang memiliki gagasan dan bisa jadi gagasan yang tak terungkap
lewat kata lebih bermakna daripada gagasan yang terungkap dengan kata
tapi hanya buaian dan omong kosong belaka, disinilah peranan
tulis-menulis menjadi penting. Secara teknikal pun gagasan yang
tertulis lebih padat akan makna dan koheren yang lebih baik karena
pada umumnya gagasan tertulis melalui koreksi terlebih dahulu,
daripada gagasan yang langsung terungkap lewat kata.
Melalui
proses koreksi dalam menulis ini ada beberapa manfaat yang dapat
diperoleh seperti:
- Melatih berbicara dengan kata yang baik dan runtut
- Meningkatkan daya ingat
- Memperbanyak perbendaharaan kata
Naskah yang 3 halaman mana?
BalasHapus