Selasa, 01 Maret 2016

Merenung Untuk Menulis


Dalam diamku, aku berfikir mengenai apa yang aku lihat. Tentang seorang ibu yang menenangkan tangis anaknya yang berusia dua tahun dengan sebuah pena dan secarik kertas. Sebuah hal yang tak jarang dan sederhana bukan? memang sederhana jika ditinjau dari visual, tapi ketika aku berpikir lebih dalam ada suatu pelajaran yang dapat aku gali, ketika anak tersebut menghentikan tangisnya dan mulai asyik dengan sebuah pena serta secarik kertas. Kejadian ini seperti mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Tuhan telah mengaruniakan duapemberian yang amat luar biasa ketika anak masih ada pada usia dini.
Aku termasuk orang yang meyakini bahwa anak pada kisaran umur 0-3 tahun adalah makhluk tuhan dalam wujud manusia yang suci hati dan pemikirannya. Setujukah anda dengan saya? Jika anak tersebut menghentikan tangisnya, kemudian ceria atas pena serta secarik kertas yang diberikan oleh ibunya, apakah itu sebuah kebetulan?
Sepertinya terlalu sedikit pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita mengatakan hal itu merupakan sebuah kebetulan. Mari kita pikir lagi…apa yang melandasi anak itu untuk ceria atas pena serta secarik kertas yang diberikan oleh ibunya? Bukankah anak kecil belum cukup untuk berlogika untuk menentukan suatu pilihan? Saya meyakini bahwa yang menentukan pilihan itu tiada lain adalah hati yang masih suci dan tiadalah suatu dzat yang dapat menaruh rasa benci dan suka pada hati manusia kecuali Tuhannya.
Jadi secara tidak langsung, Tuhan telah memberikan petunjuknya, sesungguhnya Ia telah mengaruniakan pada sebagian besar manusia dua hal yang luar biasa yaitu menulis atau menggambar, tinggal manusia itu sendiri hendak menekuni dua karunia itu atau akan berpaling memilih sesuatu yang tiada manfaat atas pilihan hawa nafsunya yang tumbuh seiring bertambahnya usia.
Begitulah pendapatku tentang menulis, menulis adalah rahmat dari Tuhan. Dalam sejarahpun terserat demikian, Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia melalui kitab yang ia turunkan. Ia menunjukan bagaimana cara menyampaikan informasi secara efektif melalui kitab yang Ia turunkan.
Ia menunjukan bagaimana cara menyampaikan informasi tanpa berkata meskipun Ia kuasa untuk melakukannya, namun Ia menghendaki agar manusia mengambil pelajaran atas peristiwa ini. Pada perkembangan selanjutnya hingga zaman kini pun terbukti menulis adalah hal yang sangat urgent.
Tidak semua orang dapat berkata meskipun secara indra ia sempurna, namun semua orang memiliki gagasan dan bisa jadi gagasan yang tak terungkap lewat kata lebih bermakna daripada gagasan yang terungkap dengan kata tapi hanya buaian dan omong kosong belaka, disinilah peranan tulis-menulis menjadi penting. Secara teknikal pun gagasan yang tertulis lebih padat akan makna dan koheren yang lebih baik karena pada umumnya gagasan tertulis melalui koreksi terlebih dahulu, daripada gagasan yang langsung terungkap lewat kata.
Melalui proses koreksi dalam menulis ini ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh seperti:
  1. Melatih berbicara dengan kata yang baik dan runtut
  2. Meningkatkan daya ingat
  3. Memperbanyak perbendaharaan kata